Monday , October 22 2018
Home > Uncategorized > Demam Emas TGB

Demam Emas TGB

Demam Emas TGB

Demam Emas TGB
Demam Emas TGB

Selama hampir satu minggu di pertengahan bulan Mei lalu, empat penyidik ​​KPK berada di NTB yang menanyakan saksi, termasuk gubernur; Muhammad Zainul Majdi atau dikenal sebagai Tuan Guru Bajang (TGB). Seminggu sebelumnya, para pemimpin KPK telah menandatangani perintah untuk memulai penyelidikan awal atas kasus ini.

Peneliti KPK membutuhkan waktu satu jam untuk menanyakan kepada Zainul lebih dari 20 pertanyaan. Selain bertanya tentang divestasi dan penjualan saham, penyidik ​​bertanya tentang aliran dana ke rekening bank Zainul dan istrinya, dana yang diduga terkait dengan divestasi saham Newmont dari 2009-2013. “Satu pertanyaan tentang aliran dana dari Recapital Asset Management ke rekening Bank Syariah Mandiri saya,” kata Zainul, berbicara tentang pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakannya, Jumat pekan lalu.

Bekerja dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), KPK menemukan aliran mencurigakan Rp1,15 miliar dari Recapital Asset Management ke rekening bank Zainul Bank Syariah Mandiri (Nomor 0367002XXX dan 7006148XXX) pada tahun 2010. Uang itu dikirim ke rekeningnya. akun dalam dua transfer. KPK mencurigai bahwa dana tersebut terkait dengan 24 persen saham dari divestasi Newmont yang dibeli oleh Multi Daerah Bersaing pada November 2009.

Perusahaan itu adalah perusahaan patungan yang dimulai oleh perusahaan regional Daerah Maju Bersaing dan Multi Capital. Daerah Maju adalah perusahaan yang dibentuk oleh pemerintah daerah NTB bersama dengan Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat, yang merupakan rumah bagi lokasi penambangan Newmont. Multi Capital adalah anak perusahaan dari Bumi Resources, yang ada di Grup Bakrie. Recapital Asset Management, lembaga yang diduga menyalurkan dana ke Zainul menurut laporan keuangan konsolidasian Bumi Resources pada Juni 2010, adalah perusahaan manajemen investasi Grup Bakrie, termasuk pada saat saham Newmont dibeli.

Berbicara kepada penyidik ​​KPK, Zainul mengatakan bahwa dana tersebut adalah pinjaman dari Rosan Roeslani, pemilik Recapital, yang dipinjam untuk kebutuhan Pondok Pesantrennya, Darunnahdlatain Nahdlatul Wathan, di NTB. Dia mengatakan bahwa dana tersebut tidak terkait dengan divestasi saham. “Itu pinjaman yang saya bayar,” kata Zainul. “Rosan dan aku adalah teman lama.”

Menurut salah satu petugas penegak hukum, ada sesuatu yang tidak biasa tentang stempel yang digunakan pada perjanjian pinjaman yang mantan politisi Partai Demokrat tunjukkan kepada para penyelidik. “Materai itu dicetak setelah 2012,” kata pejabat itu. Hutang itu dilunasi pada bulan Mei tahun ini, setelah KPK mulai menyelidiki dugaan korupsi dalam divestasi Newmont. Seperti yang terlihat dalam adendum perjanjian yang diajukan ke KPK, pokok dan bunga pinjaman sebesar Rp1.35 miliar, jumlah yang luar biasa besar. Mengenai hal ini, Ketua KPK Agus Rahardjo tidak banyak bicara. “Kami sedang mencarinya,” kata Agus.

Ketika diminta untuk mengkonfirmasi aliran dana ke rekening bank Zainul, Rosan meminta Tempo untuk menjawab pertanyaan itu kepada direktur Recapital. “Saya telah memberikan jawaban saya kepada mereka,” katanya. Namun, jawaban tertulis dari Recapital CEO Ferry Panggabean kepada Tempo hanya berisi penjelasan umum tentang bagaimana keuangan perusahaan dikelola. “Aspek manajemen kami (perusahaan) sejalan dengan peraturan saat ini,” kata Ferry. Direktur Sumber Daya Bumi Bumi / Sekretaris Perusahaan Muhammad Sulthon, melalui surat tertulis yang dikirim ke Tempo, juga memberikan jawaban yang tidak jelas mengenai tuduhan aliran dana ke Zainul. “Keuangan kami secara berkala dilaporkan kepada publik dan para pemegang saham,” katanya.

Selain datang dari dugaan aliran dana dari Recapital, KPK juga mengumpulkan data dari PPATK tentang dana yang bergerak masuk dan keluar dari rekening bank Zainul dan istrinya. Selain dicurigai menerima gratifikasi, Zainul juga dicurigai menempatkan dana tersebut ke dalam rekening bank istrinya dan menggunakannya untuk membeli mobil Toyota All New Alphard X pada 3 Desember 2009, dan dua mobil Toyota All New Avanza. Periode transaksi ini datang setelah pembelian saham divestasi dari November 2009-2013.

Berdasarkan dokumen yang diperoleh Tempo, Zainul diduga menerima dana baik secara langsung maupun tidak langsung, terkait proses divestasi saham Newmont, melalui beberapa rekening bank pribadinya di Bank Mandiri, Bank Syariah Mandiri, BCA, dan Citibank. Jumlah total yang diterimanya sejak 2009-2011 mencapai Rp7,36 miliar. Sebagian dari ini dikirim ke nomor rekening Bank Mandiri 1020004236XXX. Dokumen-dokumen itu juga menyebutkan aliran dana ke Zainul dalam bentuk pertukaran mata uang asing senilai US $ 1 juta.

Check Also

Pertumbuhan Ekonomi China Melambat, Indonesia Mungkin Terkena Dampak

Pertumbuhan Ekonomi China Melambat, Indonesia Mungkin Terkena Dampak Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution tidak menyangkal …