Wednesday , November 14 2018
Home > Ekonomi > Hampir Mati Ketika ingin Menyiarkan Teks Proklamasi

Hampir Mati Ketika ingin Menyiarkan Teks Proklamasi

Hari itu, Jumat, 17 Agustus 1945, Soekarno membacakan teks proklamasi di kediamannya di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56.
Pembacaan teks tersebut menandakan Indonesia telah merdeka setelah ratusan tahun dijajah.

Namun, perjuangan tak berhenti di situ. Kabar mengenai kemerdekaan Indonesia harus disiarkan ke seluruh masyarakat.

Radio saat itu menjadi medium yang paling efektif untuk menyiarkan kabar kemerdekaan RI dengan cepat dan luas.

Namun, seperti dikutip dari buku Seputar Proklamasi Kemerdekaan karya Hendri F Isnaeni yang diterbitkan Kompas, menyiarkan kabar kemerdekaan saat itu bukan lah perkara mudah.

Sebab, kantor-kantor radio masih di bawah penguasaan Jepang.
Termasuk kantor radio Hoso Kyoku yang saat ini kita kenal dengan nama Radio Republik Indonesia (RRI).

Adalah Jusuf Ronodipuro, penyiar di Hoso Kyoku Jakarta yang sejak awal dipercaya menyiarkan kabar kemerdekaan itu.

Dua hari sebelum kemerdekaan, ia sudah mendapat kabar mengenai kekalahan tentara Jepang.

Hari itu, tanggal 15 Agustus, Jusuf masuk kantor seperti biasa. Mendadak muncul Mochtar Lubis mencari kakaknya, Bachtiar Lubis, yang kebetulan atasan Jusuf.

Sambil berbisik, Mochtar memberi tahu bahwa Jepang telah menyerah. Jusuf diminta bersiap menyiarkan kabar bahagia itu.

“Tentu saja, hati saya bergembira, tetapi lantas bagaimana? Karena Jepang segera mengunci semua pintu studio. Pegawai yang sedang berada di kantor tak boleh keluar. Pihak Jepang juga lantas menutup acara siaran luar negeri,” kata dia.

Tanggal 16 Agustus, sepanjang hari, studio tersebut menyajikan acara hiburan. Begitu juga pada pagi dan siang hari, Jumat 17 Agustus, acara yang terselenggara hanya program hiburan.

Sampai kemudian menjelang senja, ada wartawan dari kantor berita Domei, Syahruddin, yang menyelundup masuk ruang penyiar. Dia membawa dua lembar kertas.

Lembar pertama berisi surat dari Adam Malik, meminta agar lembar kedua dibacakan sebagai berita. Lembar kedua ini berisi teks lengkap proklamasi kemerdekaan.

Berhasil mengelabui

Jusuf harus memutar otak agar berita tentang kemerdekaan dan teks proklamasi itu bisa tersiar tanpa diketahui oleh Jepang. Ia segera mendapat ide.

“Saya ingat ada pemancar siaran luar negeri yang sudah tak digunakan. Perangkat itu lah yang kami manfaatkan. Saya berunding dengan tim teknik. Siaran lokal tak usah diganggu karena terus dipantau oleh pasukan Jepang yang menjaga studio,” kata Jusuf.

Akhirnya, tepat jam tujuh malam, ketika acara warta berita biasa dimulai, Jusuf segera tampil di mikrofon, dengan tenang membacakan berita seputar proklamasi kemerdekaan yang baru saja berlangsung di pagi harinya.

Siaran ini dipancarkan ke seluruh Indonesia. Hanya saja, lewat pengeras suara ke dalam studio, disiarkan warta berita versi resmi.
Petugas keamanan di studio yang mengawasi situasi mengangguk-angguk mendengar berita resmi.

Mereka tak tahu, yang disiarkan ke udara adalah warta berita versi tak resmi.

Berita tak resmi tersebut tak lain adalah kabar bahwa Indonesia sudah merdeka. Jusuf juga membacakan ulang naskah teks proklamasi yang sebelumnya sudah dibacakan oleh Soekarno.

“Proklamasi Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta”

Hampir terbunuh

Dua jam setelah kabar mengenai kemerdekaan Indonesia tersiar ke seluruh pelosok negeri, satu regu Kanpetai (polisi militer) Jepang langsung menyerbu ke dalam studio.

Satu per satu, para petugas keamanan yang menjaga studio dihajar.
“Begitu juga saya dengan Bahtiar Lubis, juga ikut dihajar habis-habisan. Sampai kemudian, sebuah samurai dihunus, siap ditebaskan ke kepala kami,” kenang Jusuf.

Kendati demikian, keberuntungan masih ada di pihak Jusuf dan Bahtiar Lubis. Begitu samurai akan mengayun, masuk pimpinan umum radio Jepang.

Dia segera memerintahkan agar Jusuf dan Bahtiar dibebaskan.

“Saya sendiri tak karuan, tapi Bahtar Lubis lebih tak karuan. Seluruh gigi depan bagian atas rontok kena pukulan Jepang,” kata Jusuf.

Meski tubuhnya remuk dan nyaris kehilangan nyawa, namun Yusuf tetap puas dan bangga.

“Saya bangga lewat radio, bisa ikut menyebarluaskan berita Proklamasi Kemerdekaan.”

Check Also

Minum Kopi Sering Disebut Mampu untuk Menekan Alzheimer dan Parkinson

Minum Kopi Sering Disebut Mampu untuk Menekan Alzheimer dan Parkinson

Selain memiliki rasa yang nikmat, kopi pun mengandung berjuta manfaat. Salah satu temuan terkini menyimpulkan, …