Uncategorized

Hentikan Lingkaran Kekerasan di Papua

Hentikan Lingkaran Kekerasan di Papua

Hentikan Lingkaran Kekerasan di Papua
Hentikan Lingkaran Kekerasan di Papua

Lingkaran kekerasan tetap tak terbendung di provinsi Papua, Indonesia. Akhir pekan lalu, seorang warga sipil kembali ditembak mati oleh pemberontak bersenjata Papua di sebuah desa di Kabupaten Jaya Wijaya.

Pembunuhan Sugeng Efendi, seorang warga Desa Wuyukwi, Kecamatan Mulia, pada 2 Februari 2019, baru saja menambah korban tewas warga sipil di tangan pemberontak Papua setelah pembunuhan 31 pekerja konstruksi pada bulan Desember 2018.

Penjaga kios berusia 25 tahun itu ditembak mati oleh seorang pemberontak Papua pada Sabtu malam. Pembunuhan Efendi terjadi dua hari setelah Gerakan Papua Merdeka (OPM) mengumumkan dukungan resminya untuk deklarasi perang sayap bersenjata melawan Indonesia.

Menurut Radio Selandia Baru (RNZ), pengumuman itu dibuat oleh Juru Bicara OPM Jeffrey Bomanak dalam konferensi pers yang diadakan di Port Moresby, ibu kota Papua Nugini (PNG), pada 31 Januari 2019.

RNZ mengutip Bomanak yang mengatakan bahwa perang melawan Negara Kesatuan Republik Indonesia “tidak akan berakhir sampai Jakarta setuju untuk bertemu untuk negosiasi damai, yang mana OPM membentuk tim perunding.”

Sebenarnya, selama setahun terakhir, separatis bersenjata Papua tidak hanya mengkampanyekan serangkaian pembunuhan terhadap warga sipil dan personel keamanan, tetapi mereka juga terlibat dalam kejahatan serius lainnya seperti menahan warga sipil dan sandera serta memperkosa para korban.

Dalam kasus 16 guru dan pekerja medis di Kecamatan Mapenduma, Distrik Nduga, Provinsi Papua, pada Oktober 2018, misalnya, seorang perwira militer membenarkan bahwa para pemberontak yang menahan mereka telah memperkosa para korban (SINDOnews, 2018).

Sekali lagi, di Distrik Nduga, sekelompok pemberontak bersenjata Papua membunuh secara brutal 31 pekerja dari PT Istaka Karya, yang terlibat dalam pembangunan dan pembangunan proyek Trans-Papua di Kali Yigi dan Kali Aurak di Kecamatan Yigi, pada 2 Desember 2018 .

Di antara para korban adalah Jepry Simaremare dan Alpianus M, keduanya karyawan PT Istaka Karya, serta Agustinus T, Carly Zatrino, Muh. Agus, Fais Syahputra, Yousafat, Aris Usi, dan Yusran, yang semuanya adalah pekerja PT Istaka Karya.

Pemberontak bersenjata, yang melancarkan pembunuhan brutal, juga membunuh seorang prajurit bernama Handoko dan melukai dua personel keamanan lainnya, Sugeng dan Wahyu.

Mempertimbangkan kejahatan yang sedang berlangsung dari pemberontak bersenjata, Kepala Inspektur Jenderal Kepolisian Papua Martuani Sormin telah memperingatkan pada awal Januari 2019 bahwa mereka kemungkinan akan tetap menjadi ancaman keamanan serius di daerah-daerah tertentu di pegunungan pusat provinsi.

Polisi telah berusaha mendekati kelompok-kelompok bersenjata untuk mengakhiri lingkaran kekerasan, tetapi upaya tersebut belum membuahkan hasil, katanya ketika menanggapi pertanyaan wartawan lokal mengenai situasi keamanan tahun ini di Provinsi Papua.

Namun, karena kehadiran personel tentara dan polisi di daerah pegunungan tengah yang berpotensi terancam oleh apa yang disebut polisi sebagai “kelompok kriminal bersenjata,” atau “KKB,” frekuensi gangguan keamanan dapat dikurangi.

Sormin mengatakan bahwa mereka yang bertanggung jawab untuk mengelola daerah adalah gubernur dan bupati, dan angkatan bersenjata dan personil polisi tidak dapat melakukan tugas mereka tanpa dukungan mereka.

Karenanya, dalam menghadapi ancaman keamanan ini, ia mengusulkan agar “Forum Komunikasi Kepemimpinan Regional” atau “Forkopimda,” diaktifkan, sehingga solusi yang diperlukan dapat dicari bersama untuk semua masalah yang terjadi di daerah.

Bagi mereka yang menimbulkan ancaman keamanan dan gangguan, polisi akan menegakkan hukum terhadap mereka, katanya, menambahkan bahwa para pelaku akhirnya akan ditangkap.

Dalam kasus pembunuhan Efendi, polisi Indonesia di Kabupaten Puncak Jaya terus menyelidiki kasus pembunuhan tersebut.

“Penyelidikan terhadap kasus pembunuhan ini masih berlangsung,” kata Kepala Komisaris Besar Polisi Puncak Jaya Agustinus Ary Purwanto mengungkapkan, menambahkan bahwa penyidik ​​polisi berusaha untuk mengungkap kasus ini dengan menanyai para saksi.

Menyusul insiden penembakan itu, Komandan Komando Militer Regional Puncak Jaya Letnan Kolonel Agus Sunaryo menyatakan bahwa situasi di sekitar wilayah Kecamatan Mulia tetap kondusif, dan penduduk setempat melakukan kegiatan rutin mereka tanpa rasa takut.

Puluhan warga sipil di Provinsi Papua telah dibunuh oleh pemberontak bersenjata. Lebih banyak lagi yang telah diteror oleh mereka selama setahun terakhir. Ini memang ancaman keamanan serius yang membutuhkan solusi komprehensif.

Lingkaran kekerasan harus dihentikan tetapi solusi yang perlu diambil oleh Pemerintah Indonesia tidak hanya terbatas pada pendekatan keamanan. Sebaliknya, itu harus dikombinasikan dengan pendekatan kemakmuran untuk memastikan kehadiran perdamaian, keadilan, dan kemakmuran bagi semua di Provinsi Papua.

Leave a Reply