Politik

KPK KEMBALI BERHASIL TANGKAP PELAKU KORUPSI KASUS SUAP MENJELANG PILPRES

KPK KEMBALI BERHASIL TANGKAP PELAKU KORUPSI KASUS SUAP MENJELANG PILPRESKPK KEMBALI BERHASIL TANGKAP PELAKU KORUPSI KASUS SUAP MENJELANG PILPRES

KPK KEMBALI BERHASIL TANGKAP PELAKU KORUPSI KASUS SUAP MENJELANG PILPRES

Sidang pengadilan mengungkapkan pada hari Kamis bahwa Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi telah menerima suap, menjadikannya anggota kabinet kedua yang terlibat dalam kasus korupsi hanya sebulan sebelum pemilihan presiden dan legislatif negara itu.

Sebuah tim jaksa menyebutkan Imam dalam daftar dugaan penerima suap dari Komite Olahraga Nasional (KONI) ke kementerian selama persidangan sekretaris jenderal komite Ending Fuad Hamidy di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Daftar itu termasuk inisial pejabat kementerian dan komite yang diduga menerima suap sebesar Rp 3,4 miliar (US $ 240.831) untuk memberikan hibah negara kepada komite, seperti dilansir Antara.

Menurut daftar, salah satu penerima diidentifikasi hanya sebagai M, yang dikatakan menerima Rp 1,5 miliar terbesar dibandingkan dengan penerima terdaftar lainnya.

Sekretaris Perencanaan dan Penganggaran KONI, Suradi, yang menjadi saksi dalam sidang Kamis, bersaksi bahwa dia membuat daftar di bawah perintah Ending.

Saya berasumsi bahwa inisial M, yang akan menerima Rp 1,5 miliar, mengacu pada menteri karena dia akan menerima suap terbesar, kata Suradi di pengadilan, Kamis seperti dikutip Antara. Aku tidak benar-benar tahu pada saat itu karena [Akhir] hanya mendiktekan inisial untukku.

Namun, dia mengatakan tidak tahu apakah uang itu telah dicairkan kepada menteri.

Penyelidik KPK telah memanggil Imam pada Januari ke markas komisi di Jakarta untuk diinterogasi sebagai saksi dalam kasus ini. Selama interogasi, pelanggar korupsi menanyai menteri tentang perannya dalam memberikan persetujuan pada proposal hibah.

Daftar itu juga termasuk inisial Ul dari kementerian, yang akan menerima Rp 500 juta. Saya berasumsi bahwa Ul adalah Ulum, staf pribadi menteri pemuda dan olah raga, tambah Suradi.

Dalam dakwaan KPK terhadap Ending, jaksa melibatkan Ulum sebagai orang yang mengatur pencairan biaya komitmen dari KONI ke kementerian, yang berjumlah antara 15 dan 19 persen dari hibah Rp 17,9 miliar.

Jaksa penuntut KPK menuntut Ending karena memberikan suap kepada menteri luar negeri yang mengawasi prestasi olahraga, Mulyana, dan dua bawahannya terkait dengan hibah dari kementerian kepada KONI. Badan antigraft menamainya sebagai tersangka dalam kasus pada 19 Desember setelah mereka ditangkap selama operasi di Jakarta sehari sebelumnya.

Awal pekan ini, badan anti-korupsi menyita uang kertas lebih dari US $ 40.000 di kantor Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin sebagai bagian dari penyelidikan dugaan suap yang melibatkan ketua Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Muhammad Romahurmuziy. Lukman juga adalah anggota partai, yang merupakan salah satu dari partai pendukung Presiden Joko Widodo.

Romahurmuziy dituduh menerima suap untuk merekomendasikan promosi pejabat di Kementerian Agama.

Penuntutan Romahurmuziy, yang dikenal sebagai sekutu Jokowi, telah mengejutkan banyak orang seperti yang terjadi beberapa minggu sebelum pemilihan yang akan diselenggarakan secara bersamaan pada 17 April. Imam adalah anggota Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), partai pendukung Jokowi lainnya.

Leave a Reply