News

MENGGUNAKAN ANTI BIOTIK BISA MERUSAK KESEHATAN TUBUH KITA

MENGGUNAKAN ANTI BIOTIK BISA MERUSAK KESEHATAN TUBUH KITAMENGGUNAKAN ANTI BIOTIK BISA MERUSAK KESEHATAN TUBUH KITA

SARANANKRI – MENGGUNAKAN ANTI BIOTIK BISA MERUSAK KESEHATAN TUBUH KITA. pada tahun 1928. Temuan ini memberikan manfaat besar bagi kehidupan manusia. Namun, pada saat bersamaan, ia juga mengingatkan bahwa orang harus berhati-hati dalam menggunakan antibiotik. Penggunaan yang salah, resistensi antibiotik dihadapi.

Obat-obatan seperti amoksisilin, cefradoxil, erythromicyn, dan tetrasiklin sudah tidak asing lagi bagi masyarakat. Serangkaian obat tidak dapat dibandingkan dengan jenis obat lain, karena mereka termasuk dalam kelas antibiotik yang bertanggung jawab untuk memberantas bakteri yang menyerang tubuh.

Apa yang ditakuti oleh Fleming terjadi di era kiwari. Bakteri bukan hanya makhluk kecil yang mudah diatasi. Semakin banyak di sini, bakteri semakin kuat dan antibiotik yang masuk ke tubuh tidak dapat membasmi mereka.

Ahli mikrobiologi, Dr. Anis Kurniawan, menjelaskan bahwa bakteri dapat bertahan dalam berbagai kondisi. Namun, penggunaan antibiotik tanpa pandang bulu membuat bakteri lebih ‘pintar’ dan kebal terhadap upaya antibiotik untuk membasmi mereka.

MENGGUNAKAN ANTI BIOTIK BISA MERUSAK KESEHATAN TUBUH KITA. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa resistensi antibiotik bertanggung jawab atas 700 ribu kematian di seluruh dunia. Para ahli memperkirakan bahwa resistensi antibiotik akan mengakibatkan sekitar 10 juta kematian secara global pada tahun 2050. Bagaimana dengan Indonesia?

Untuk jumlah kasus, kami belum ada (data). Namun, jika jumlah bakteri tersedia, kata Anis yang juga Sekretaris Komite Kontrol Perlawanan Antimikroba (KPRA) di CNNIndonesia.com ketika bertemu saat diskusi media di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Kamis (11) / 15).

KPRA telah melakukan survei sepanjang 2013-2016 di enam rumah sakit di Sumatra, Jawa dan Bali. Survei ini menggunakan parameter ketahanan terhadap bakteri gram negatif yang menghasilkan komponen yang menyebabkan resistensi.

Dari enam rumah sakit, hasilnya bervariasi. Namun, rata-rata jenis bakteri gram negatif di rumah sakit lokasi survei adalah sekitar 40-80 persen di antaranya resisten terhadap antibiotik.

Tidak sulit untuk mencegah resistensi antibiotik. Menghindari infeksi dengan menjaga kebersihan dan menjaga kondisi tubuh adalah salah satu cara paling efektif. Selain itu, orang juga perlu bijak dalam mengonsumsi antibiotik.

Anis menjelaskan, tidak semua penyakit bisa diselesaikan dengan antibiotik. Hanya infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang dapat diatasi dengan antibiotik.

Sejauh pengamatan Anis, banyak orang menggunakan antibiotik untuk semua jenis penyakit. Misalnya, sakit tenggorokan yang disembuhkan dengan antibiotik. Bahkan, menurut penelitian, 90 persen penyebab sakit tenggorokan adalah virus, katanya. Sedangkan antibiotik digunakan untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh bakteri.

MENGGUNAKAN ANTI BIOTIK BISA MERUSAK KESEHATAN TUBUH KITA. Pada tahap awal, resistensi antibiotik tidak dirasakan oleh penderitanya. Biasanya, mereka akan datang ke rumah sakit dalam kondisi parah. Infeksinya terlalu berat dan bakteri sulit dimusnahkan.

Oleh karena itu, Pekan Kesadaran Antibiotik Sedunia pada 12-18 November 2018 dipromosikan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan resistensi antibiotik. Apalagi menurut WHO, kawasan Asia adalah wilayah dengan kasus resistensi antibiotik yang tinggi.

Anis mengamati bahwa ada sejumlah hal yang memicu tingginya kasus resistensi antibiotik. Beberapa faktor ini termasuk penjualan gratis, penggunaan yang tidak hati-hati, dan penggunaan antibiotik untuk pakan ternak.

Di luar itu, lanjut Anis, ada juga tekanan pada dokter untuk memberinya antibiotik walaupun mereka hanya terserang flu.

Misalnya, ibu yang datang ke dokter dan tidak menerima anak-anak mereka hanya diberi vitamin, kata Anis. Paradigma masyarakat yang berpendapat bahwa antibiotik itu efektif dan harus diresepkan untuk semua jenis penyakit, menurutnya, juga menjadi salah satu penyebabnya. Nah, paradigma masyarakat juga harus diubah, simpulnya.

Leave a Reply