Sunday , December 16 2018
Home > Gaya hidup > Menjalani Hidup Sehat Secara Manual “Ketlingsut”

Menjalani Hidup Sehat Secara Manual “Ketlingsut”

Rangkaian peringatan hari kesehatan nasional baru saja berlalu. Suatu momen yang tidak dirayakan besar-besaran, apalagi menarik perhatian banyak orang di tahun ini.

Bahkan, cenderung dilupakan di banyak tempat. Tentu saja, mengingat rapor merah yang menghantui salah satu hak dan harkat tertinggi manusia untuk hidup sehat dan menikmati hari-hari di masa tua dengan bermartabat.

Adanya juga penurunan angka kematian pada bayi, tapi menyisakan angka stunting jauh di atas batas waspada yang ditentukan oleh World Health Organisation yang menunjukkan kemampuan teknis seputar persalinan yang mulai lumayan, akan tetapi makhluk hidup yang baru dilahirkan itu tidaki mendapatkan asuhan mumpuni di 1000 hari pertama kehidupannya.

Seribu hari pertama bukan di luar tubuh ibu, tapi sepertiganya saat dia disebsarkan sebagai janin-ketika ibunya telah mengandung dan bergizi seadanya.

Mendadak istilah stunting menjadi booming dari meja konperensi tingkat tinggi hingga rapat kader posyandu.

Pimpinan daerah yang sempat kena sentil, karena angka stunting di wilayahnya yang melejit ini tak terkira ikutan panik bahkan menyangkal karena dia tidak pernah melihat orang-orang kerdil nbersliweran sebagaimana pemahamannya soal indikator stunting adalah postur tubuh yang kerdil.

Padahal, kerdil akibat stunting tidaklah sama dengan (maaf) ‘orang cebol’ yang kerap di-bully sebagai pelawak atau tontonan manusia aneh – yang penyebabnya akibat gangguan hormon, dan tentu saja beda dengan kasus stunting.

Di sisi lain, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang baru saja dirilis memaparkan angka-angka ngeri seputar penyakit akibat gaya hidup yang kian menanjak, bukannya menurun.

Dibandingkan 2013, stroke meningkat dari 7% menjadi 10.9%, diabetes dari 6.9% menjadi 8.5% dan hipertensi dari 25.8% menjadi 34.1%. Sama sekali tidak ada perbaikan, perburukan malah semakin nyata.

Gerakan masyarakat hidup sehat (Germas) yang dicanangkan sejak awal 2017 dengan harapan pola makan mendapat perhatian dan rakyat beralih lebih banyak mengonsumsi sayur dan buah – justru hal sebaliknya yang terjadi : dibandingkan 2013, masyarakat yang tidak cukup mengasup sayur dan buah semakin banyak, dari 93.5% jadi 95.9%.

Ini amat keterlaluan sekaligus memalukan jika tidak mau dibilang ‘ngledek’. Ada apa?

Yang pasti bukan statistiknya yang salah. Promosi kesehatan masih sebatas kampanye, jargon, bagi-bagi kaos, goody bag, dan brosur serta keramaian panggung artis yang dibayar.

Gagapnya para pemangku tanggung jawab kesehatan yang bingung mau ‘membangunkan’ rakyatnya.

Meningkatkan kesadaran saja tidak menyelesaikan masalah. Proses yang terlalu lama menghabiskan uang dan waktu, sementara kematian dan bangkrutnya sistem layanan dan pembiayaan kesehatan semakin mengancam.

Stunting, stroke, diabetes, hipertensi hanyalah beberapa puncak gunung es yang hari ini terlihat. Keseluruhan gunung es utuhnya masih di bawah permukaan laut dan kapal mana pun yang lewat dijamin siap karam.

Saat tabrakan terjadi, sudah kelewat terlambat untuk mencari manual bagaimana dan kemana seharusnya kapal itu berlayar.

Mengharapkan air laut surut agar gunung es terlihat jelas tidak akan menyelesaikan masalah selama kapal masih berlayar ke arahnya dan setiap saat bisa terhempas menyisakan lobang besar mengaga di buritan.

Ibaratnya, menguak kesadaran publik akan bahaya stunting, stroke, diabetes, dan hipertensi saja. Tanpa ada kesadaran dari yang empunya kapal, untuk banting haluan sebelum hantaman penyakit katastropik dan gagal tumbuh generasi menyisakan kekosongan generasi produktif yang menyelamatkan kedaulatan bangsa ini.

Perubahan perilaku tidak akan bisa diharapkan dari siapa pun jika orang yang diharapkan berubah itu tidak memahami mengapa ia harus berubah. Untung ruginya dimana, manfaat dan mudharatnya apa, dan bagaimana caranya untuk berubah.

Check Also

Menjaring Lebih Banyak Pembeli Melalui Keramahan Gaya dari Jepang

Menjaring Lebih Banyak Pembeli Melalui Keramahan Gaya dari Jepang

Pernahkah kamu merasa dicuekin oleh penjaga toko saat hendak berbelanja? Atau kesal karena pegawai di …