Uncategorized

Modal 4 Bahasa Asing, Abang Becak di Makassar Berharap Banyak Dilirik Turis

Modal 4 Bahasa Asing, Abang Becak di Makassar Berharap Banyak Dilirik Turis

Daeng Ali Nurdin (65) masih setia pada profesinya sebagai pengayuh becak di Makassar. Pekerjaan itu sudah dia lakoni sejak 30 tahun lalu. Dan memilih bertahan meski harus bersaing dengan keberadaan mod transportasi modern lainnya.

Daeng Ali punya alasan tetap mencintai profesinya. Apalagi kalau bukan alasan keuangan. Dia tak memiliki modal untuk mencoba usaha lainnya.

Meski demikian, Daeng Ali tetap berbesar hati. Berbekal keahlian berbahasa Inggris membuat Daeng Ali yakin becaknya akan menjadi pilihan wisatawan asing. Dia yakin, pelancong asing lebih senang dilayani dengan Bahasa Inggris. Harapannya, upah yang didapat jauh lebih besar dari penumpang lokal.

Itu pula yang menjadi alasan Daeng Ali memilih mangkal di depan Hotel Pantai Gapura Jl Pasar Ikan, Kecamatan Ujung Pandang. Lokasinya sekitar 1,6 kilometer dari anjungan Pantai Losari. Saban hari, dia menunggu para turis yang keluar dari hotel untuk berkeliling di Makassar.

“Kalau lagi untung, sehari biasa dapat penumpang bule dengan bayaran Rp 150 ribu keliling kota. Tapi kalau lagi tidak untung, biasanya hanya bawa pulang Rp 5 ribu dari penumpang lokal bahkan terkadang tidak bawa berapapun pulang ke rumah. Meski demikian semua harus disyukuri,” kata Daeng Ali saat berbincang dengan merdeka.com, Rabu (11/9).

Sebelum menjadi tukang, Daeng Ali pernah menjadi tukang batu dengan pendapatan Rp 750 ribu dalam seminggu. Suatu hari, saat kerja bangunan di Jl Somba Opu, dilihatnya seorang tukang becak dapat penumpang bule kesusahan berkomunikasi karena terkendala bahasa.

“Saat itu saya berpikir, kenapa saya tidak ganti profesi jadi tukang becak saja karena sedikit tahu bahasa Inggris. Saya cobalah ke Benteng Rotterdam bawa becak sewaan, dalam sehari ternyata bisa dapat Rp 150 ribu jadi kalau seminggu bisa dapat sejuta lebih. Jadi tukang batu, hanya Rp 750 ribu seminggu,” ujar Daeng Ali.

Sejak itu, kata Daeng Ali, dirinya menjadi incaran para turis mancanegara. Pundi-pundi penghasilan dia kumpulkan sampai akhirnya bisa membeli becak sendiri. Tak hanya itu, enam anaknya bisa disekolahkan sampai tingkat SMA.

“Modal bisa bahasa Inggris bukan dari sekolah karena hanya tamat SR (Sekolah Rakyat). Dapatnya dari belajar sendiri saja, ada kamus. Terus karena sering ketemu bule, saya juga belajar sama mereka. Karena bule itu beda dengan kita di Indonesia yang kalau kita salah bicara, ditertawai. Kalau orang bule, saat kita salah, mereka bantu perbaiki,” tutur Daeng Ali.

Diakui, Bahasa Inggris yang dia tahu umumnya bahasa harian, perkenalan. Selain itu juga bahasa Jepang, Italia, Prancis secukupnya.

“Kalau saya bawa bule, saya yang mulai tanya what are you looking for atau apa yang kamu cari. Bulenya menjawab lalu bertanya balik, you know artinya apakah kamu tahu. Kalau mereka mau belanja, saya yang disuruh bertanya ke penjual, kata dia, i dont understand how much price. Kalau penjualnya sebut harga Rp 1.000, saya sebut ke bule itu Rp 1.000. Saya tidak mau mainkan harga, saya menjaga kepercayaan orang,” kata Daeng Ali Nurdin.

Biasanya, imbuh Daeng Ali, kalau dengan bahasa Inggris, percakapan lebih panjang. Beda kalau bule dari Jepang, Italia atau Prancis karena penguasaan sedikit-sedikit. Dia pernah begitu terkesan saat membawa turis asal Belanda bernama Rudolp yang minta diantarkan ke Pulau Samalona.

“Saya dibayari Rp 500 ribu yang saat itu nilai uangnya kalau Rp 10.000 bisa dapat beras 3 liter,” tuturnya seraya menambahkan, Rudolp pernah mengirimkan satu kotak pakaian bekas ke Makassar.

Daeng Ali mengakui, tenaganya kini kian berkurang seiring usia yang telah menua. Jika dulu membawa turis ke mana pun, kini dia tak sekuat dulu lagi. Tapi dia tetap bersemangat mencari rezeki.

“Saya kerja sekuatnya saja. Dapat seribu pun yang penting hasil keringat sendiri. Disyukuri semua asalkan tidak mengemis. Kalau dapat uang sedikit, saya tidak pakai makan di luar. Lebih baik tidak makan siang dan bawa pulang uang itu untuk makan dengan istri. Untuk mengharap ke anak-anak juga tidak bisa karena penghidupan mereka tidak jauh lebih baik dari saya. Mereka juga tukang becak dan buruh harian,” ujar Daeng Ali Nurdin dengan mata berkaca-kaca.

Dari profesinya ini, Daeng Ali bisa menghidupi seorang istri, Raba (59) dan enam orang anak. Daeng Ali dan istrinya menghuni rumah petak sewaan seukuran kamar, 3 x 4 meter di Jl Sultan Abdullah Raya, Kelurahan Kaluku Boddoa, Kecamatan Tallo.

Leave a Reply