News

PEMERINTAH TENGAH MEMPELAJARI KONSERVASI PENGELOLAAN LAHAN GAMBUT

PEMERINTAH TENGAH MEMPELAJARI KONSERVASI PENGELOLAAN LAHAN GAMBUTPEMERINTAH TENGAH MEMPELAJARI KONSERVASI PENGELOLAAN LAHAN GAMBUT

PEMERINTAH TENGAH MEMPELAJARI KONSERVASI PENGELOLAAN LAHAN GAMBUT – Pemerintah telah memulai penelitian untuk mengembangkan lahan gambut sebagai lahan pertanian dan kawasan konservasi, setelah bertahun-tahun perusahaan perkebunan dan petani menggunakan metode tebang-dan-bakar dalam upaya menumbuhkan lahan gambut.

Tim Restorasi Lahan Gambut Sumatra Selatan (TRGD) telah memfokuskan pada empat area di provinsi ini untuk dikembangkan sebagai pusat pengelolaan dan penelitian gambut. Ketua TRGD Najib Asmani mengatakan bahwa keempat area tersebut dipetakan berdasarkan karakteristik masing-masing bagi para peneliti untuk melakukan berbagai studi lahan gambut.

Keempat area tersebut termasuk Taman Nasional Sembilang, yang ditetapkan UNESCO tahun lalu sebagai Cagar Biosfer. Tiga area lainnya adalah HTI seluas 700.000 hektar di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), sebuah area yang akan menjadi pusat penelitian perkebunan pangan di desa Banyu Urip, kabupaten Banyuasin, dan daerah Sepucuk di kabupaten OKI yaitu menjadi pusat pengembangan gambut.

Baca Juga : WALIKOTA BOGOR MEWAKILI CAP GO MEH DENGAN KEANEKARAGAMAN BUDAYA

“Berbagai jenis lahan gambut ada [di wilayah ini],” kata Najib, seraya menambahkan bahwa studi kelayakan tentang pengembangan produksi akan segera dilakukan di wilayah tersebut untuk mengajukan persetujuan mereka berdasarkan peraturan gubernur.

Pembakaran lahan gambut yang kaya karbon telah menyebabkan puluhan tahun kebakaran hutan meluas di Indonesia. Negara ini mengalami kebakaran hutan dan krisis kabut asap terburuk pada tahun 2015, yang menyebabkan kerugian ekonomi sebesar Rp 221 triliun (US $ 15,8 miliar), setara dengan 1,9 persen dari PDB nasional tahun itu.

PEMERINTAH TENGAH MEMPELAJARI KONSERVASI PENGELOLAAN LAHAN GAMBUT – Najib juga mengatakan bahwa menyebut daerah itu pusat penelitian memungkinkan masyarakat setempat untuk diberdayakan dan dididik dalam mengembangkan daerah tanpa membakar mereka. Ahli kehutanan dan perubahan iklim Daniel Murdiyarso dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) mengatakan bahwa studi lahan gambut harus direncanakan dengan baik. Para peneliti perlu menentukan target mereka, terutama dalam hal program penjangkauan di masa depan.

Dia mengatakan studi harus fokus pada lahan gambut terlantar yang telah menjadi sumber emisi gas rumah kaca. “Lahan gambut adalah penyimpan karbon terbesar. Indonesia menyimpan 55 miliar ton karbon. Sekitar 70 persen lahan gambut di Asia ada di sini,” katanya.

Daniel mengatakan Indonesia harus dapat mengurangi 2 miliar ton emisi karbon per tahun. Dia mengatakan emisi lahan gambut dapat dikendalikan dengan tidak membiarkannya mengering. Program rewetting TRGD adalah contoh tindakan konkret yang dapat diambil untuk melestarikan hutan dan lahan gambut yang dikonversi.

Baca Juga : GERINDRA DAN PKS MENYARING CALON WAKIL GUBERNUR JAKARTA DI BALIK PINTU TERTUTUP

Tidak seperti lahan gambut di hutan konservasi, lahan gambut di lahan produktif dan hutan rawan pengeringan dan kebakaran gambut. Kebakaran hutan berdampak tidak hanya pada kehidupan manusia, tetapi juga keanekaragaman hayati, seperti mengganggu habitat harimau, menyebabkan polusi nutrisi dan ketidakseimbangan dalam sistem sungai, dan merusak ekosistem air tawar.

“Melalui penelitian, kerentanan suatu wilayah terhadap bencana dan mitigasi dapat dilakukan dengan lebih akurat dan cepat,” kata Daniel.

Direktur proyek KELOLA Sendang Damayanti Buchori mengatakan bahwa mempublikasikan studi penelitian memainkan peran penting dalam mempromosikan pengelolaan lahan gambut di masa depan. KELOLA Sendang adalah proyek pengelolaan lanskap yang diprakarsai oleh Zoological Society of London (ZSL), pemerintah Indonesia dan pemerintah Sumatera Selatan untuk mengatasi tantangan deforestasi, degradasi lahan gambut, dan perubahan iklim.

Leave a Reply