Monday , October 22 2018
Home > Mancanegara > PERINGATAN PENOBATAN RAJA DIRAYAKAN DENGAN TARIAN SAKRAL DI SURAKARTA
PERINGATAN PENOBATAN RAJA DIRAYAKAN DENGAN TARIAN SKRAL DI SURAKARTA
PERINGATAN PENOBATAN RAJA DIRAYAKAN DENGAN TARIAN SKRAL DI SURAKARTA

PERINGATAN PENOBATAN RAJA DIRAYAKAN DENGAN TARIAN SAKRAL DI SURAKARTA

Aroma melati menyebar di aula Pura Mangkunegaran di Surakarta, Jawa Tengah, ketika beberapa penari wanita masuk, ditemani oleh musik tradisional yang lembut dari orkes gamelan Kyai Kanyut Mesem.

Dari kursinya, Raja Mangkunegara, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara IX, dan ratusan tamu menikmati tarian sakral yang diciptakan oleh Raja Mangkunegara I lebih dari 250 tahun yang lalu.

Dilakukan oleh tujuh penari, tarian yang dikenal sebagai Bedhaya Ketawang Alit menggambarkan pertempuran antara Raden Mas Said, juga dikenal sebagai Pangeran Sambernya, yang kemudian menerima gelar Mangkunegara I, dan pasukan Belanda di Ponorogo pada 1752.

Meskipun cerita yang terinspirasi dari pertempuran, gerakan tarian, yang dikenal sebagai Bedaya Anglir Mendung, anggun tetap mempertahankan kesan keberanian. Mereka menggabungkan kerapuhan dengan demonstrasi superioritas prajurit perempuan menggunakan panah sebagai senjata mereka. Tarian ini diciptakan untuk menghormati pasukan Ladrang Mangungkung dan Jayeng Rasta, prajurit perempuan Mangkunegaran.

Tarian ini dianggap sakral karena hanya dapat dilakukan setahun sekali selama prosesi Wiyosan Jumenengan Mangkunegara, atau upacara peringatan penobatan raja. Tahun ini, ulang tahun ke-31 raja jatuh pada Rabu malam.

Menariknya, begitu juga dengan semua wanita, para penari juga harus perawan. Mereka juga harus berpuasa selama satu minggu sebelum melakukan tarian. Penawaran seperti tujuh warna bunga yang berbeda juga menghiasi acara.

“Jumenengan dan Bedaya Anglir Mendung membentuk satu kesatuan. Ini adalah warisan nenek moyang kita dan kita harus melestarikannya. Bagi orang Jawa, perayaan seperti ini adalah syarat dan simbol syukur,” kata Pura Mangkunegaran PR pegawai Mas Ngabehi Joko Pramodyo .

Setelah tarian, KGPAA Mangkunegara IX memberikan judul kepada 32 orang yang dianggap telah melayani Mangkunegaran dengan baik, termasuk Kapolda Jawa Tengah Irjen Polisi Condro Kirono, mantan Panglima Militer Indonesia (TNI) Gatot Nurmantyo, Hutomo Mandala Putra dan Sigid Harjo Wibisono. Masing-masing menerima gelar Kanjeng Pangeran Haryo (KPH).

Check Also

TRUMP MENGINGKARI ORANG SAUDI PADA WARTAWAN DAN MENGATAKAN KEBENARAN

TRUMP MENGINGKARI ORANG SAUDI PADA WARTAWAN DAN MENGATAKAN KEBENARAN

Presiden Donald Trump pada hari Rabu membantah menutup-nutupi bagi sekutu Arab Saudi dalam dugaan pembunuhan …