Friday , June 22 2018
Home > News > Rekap 100 Hari Kepemimpinan Anies – Sandi di Jakarta
Rekap 100 Hari Kepemimpinan Anies - Sandi di Jakarta
Rekap 100 Hari Kepemimpinan Anies - Sandi di Jakarta

Rekap 100 Hari Kepemimpinan Anies – Sandi di Jakarta

Rekap 100 Hari Kepemimpinan Anies – Sandi di Jakarta – Setelah seratus hari pertamanya sebagai gubernur DKI Jakarta, rasanya Anies Baswedan merasa seakan menjadi antitesis pendahulunya, Basuki Tjahaja Purnama. Dia telah mengubah fungsi jalan raya untuk memberi tempat bagi pedagang yang menggunakan gerobak yang dikenal sebagai kaki lima di Pasar Tanah Abang, dan telah mengundang becak untuk kembali ke jalan-jalan di ibu kota. Kebijakan reklamasi Basuki telah sepenuhnya ditinggalkan.

Sayangnya, ada kesan bahwa semua ini telah dilakukan dengan tergesa-gesa. Misalnya, Anies Baswedan dan wakilnya, Sandiaga Uno, mengatakan kebijakan becak mereka memenuhi janji kampanye, sambil mengklaim bahwa gubernur sebelumnya, Joko Widodo, juga membuat kontrak politik serupa. Hal yang sama berlaku untuk pembatalan penggusuran dan pembersihan daerah kumuh di Jakarta Utara. Tidak mengherankan jika masyarakat menduga bahwa semua kebijakan ini ditujukan untuk memperbaiki citra kepentingan politik.

Tentu saja, tidak ada salahnya Anies ingin mengembangkan Jakarta dengan menggunakan pendekatan yang lebih akomodatif terhadap kepentingan masyarakat berpendapatan rendah. Kemiskinan di Jakarta adalah masalah kronis dan belum terpecahkan. Menurut Badan Pusat Statistik, hingga Maret 2017, 3,77 persen orang Jakart tergolong miskin, sedikit meningkat dibanding tahun sebelumnya. Ini sama dengan sekitar 390.000 orang.

BACA JUGA : Tersangka Kasus Penyerangan Gereja Berhasil di Tangkap di Jakarta

Rekap 100 Hari Kepemimpinan Anies – Sandi di Jakarta – Kelompok yang lebih rendah ke kelompok berpenghasilan menengah memang merupakan basis dari konstituen Anies. Dari 58 persen warga Jakarta yang memilihnya dalam pemilihan tahun lalu, 52 persen berasal dari kelompok berpenghasilan rendah, sementara 65 persen hanya dididik sampai tingkat SMA atau lebih rendah. Kebanyakan orang dengan gelar sarjana atau lebih tinggi memilih Basuki. Jadi, kelihatannya logis jika dia ingin memprioritaskan kepentingan pemilihnya, seperti banyak politisi setelah memenangkan pemilihan.

Masalahnya, kebijakan baru Anies seringkali bertentangan dengan peraturan yang ada. Misalnya, rezonasi pasar di jalan raya adalah melawan dua peraturan, sementara reorganisasi sistem transportasi umum tidak termasuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Jakarta. Jenis kebijakan ini berpotensi menimbulkan masalah. Bukan hanya soal alokasi anggaran tapi juga koordinasi antar institusi di lapangan.

Yang juga mengkhawatirkan adalah laporan bahwa Anies Baswedan lebih suka membahas kebijakannya dengan konsultan khusus di tim pendukungnya. Dia sepertinya tidak melibatkan pihak kerja daerah, yang harus menerapkan kebijakannya, atau Dewan Kota Jakarta sebagai mitra dalam menyusun kebijakan. Ini bisa jadi kesalahan besar. Selain itu, Anies harus memperbaiki cara informasi disebarluaskan ke publik. Dengan melakukan ini, pernyataan atau rencana kebijakan yang dia rilis ke media tidak akan hanya menimbulkan keributan.

Sementara mengatasi kemiskinan sebagai prioritas, Anies tidak boleh lupa bahwa Jakarta telah lama menghadapi masalah kemacetan dan banjir yang akut. Dia harus memastikan bahwa kedua masalah ini juga ditangani dengan langkah-langkah yang jelas dan terukur, sehingga semua orang Jakartans merasakan manfaat dari kepemimpinannya. Anies bebas membangun simpati publik melalui berbagai upaya untuk memperbaiki keadilan sosial, selama kebijakan tersebut berdampak nyata pada masyarakat. Cara Anies ‘dari politik populis seharusnya tidak hanya sekedar omong kosong.

Check Also

Prabowo Yakin Kekuatan Politik Menentukan Presiden Masa Depan

Prabowo Yakin Kekuatan Politik Menentukan Presiden Masa Depan

Prabowo Yakin Kekuatan Politik Menentukan Presiden Masa Depan – Ketua partai oposisi Indonesia Gerindra, Prabowo …