Kesehatan

Sapi Perah Asal Bandung Barat Yang Terjangkit Virus Brucellosis

Sapi Perah Asal Bandung Barat Yang Terjangkit Virus BrucellosisSapi Perah Asal Bandung Barat Yang Terjangkit Virus Brucellosis

SARANANKRI – Sapi Perah Asal Bandung Barat Yang Terjangkit Virus Brucellosis – Seekor sapi perah atau sapi penghasil susu asal Bandung Barat yang hendak dikirim ke Sumatera ditemukan terjangkit virus Zoonosis Brucellosis. Agar tak menular kepada sapi-sapi lain, sapi seharga Rp 25 juta tersebut dipotong bersyarat dan dibakar pada malam hari. Pemotongan dilakukan di instalasi karantina hewan milik Balai Karantina Pertanian Cilegon pada hari Senin malam. Pemotongan dilakukan malam hari agar lebih steril dari lalat yang menghinggapi hewan tersabut.

Sapi FH sangat rentan tertular virus Brucellosis serta memiliki potensi menyebarkan virus Brucellosis secara cepat. Sapi dapat menjadi sumber penularan secara terus menerus dengan cara mengeluarkan kuman tanpa memperlihatkan tanda-tanda klinis atau sering disebut carrier dan sangat patogen baik bagi sapi lain maupun manusia, kata Kepala Balai Karantina Pertanian Cilegon, Raden Nurcahyo kepada wartawan, pada hari Senin malam.

Penyakit dalam sapi itu ditemukan setelah pihak karantina melakukan pemeriksaan secara menyeluruh sapi yang akan di bawa keluar pulau jawa ini. Alhasil, dugaan awal sapi perah itu terjangkit virus brucellosis terbukti setelah di periksa secara menyeluruh bagian organ tubuh sapi.

Sapi Perah Asal Bandung Barat Yang Terjangkit Virus Brucellosis – Raden mengatakan, diawal 2019 ini, pihaknya sudah menemukan 4 sapi asal Jawa Barat terjangkit penyakit serupa yang . Balai Karantina langsung melakukan pemotongan terhadap 4 sapi itu setelah diketahui terjangkit virus brucellosis. Sebelumnya pada tanggal 10 Maret 2019, petugas karantina hewan memeriksa 9 ekor sapi perah jenis FH asal Bandung Barat yang hendak dikirim ke Medan, Sumatera Utara. Setelah pemeriksaan dokumen dan pemeriksaan fisik, petugas melakukan pengambilan sampel darah 100% untuk dilakukan pengujian Rose Bengal Test (RBT). Hasilnya dari 9 ekor sapi tersebut menunjukkan 1 ekor positif RBT, tuturnya.

Untuk diketahui, penyakit brucellosis dapat ditularkan ke manusia atau bersifat zoonosis. Pada hewan betina, penyakit ini dicirikan oleh aborsi dan retensi plasenta, sedangkan pada jantan dapat menyebabkan orchitis dan infeksi kelenjar asesorius. Brucellosis pada manusia dikenal sebagai undulant fever karena menyebabkan demam yang undulans atau naik-turun dan tidak berkesudahan.

Baca Juga : Sejarah Bandara Juanda Berhasil Menggagalkan Paket Sabu Dari Malaysia

Sapi Perah Asal Bandung Barat Yang Terjangkit Virus Brucellosis – Dalam kasus lainnya di Pulau Jawa terdapat informasi tentang keguguran sapi perah yang masih tinggi terjadi di wilayah Kabupaten Blitar. Data dari Dinas Peternakan Kab Blitar tercatat, sekitar 50 kasus rata-rata terjadi tiap tahun. Keguguran pada sapi perah ini akibat terpapar bakteri atau virus brucellosis. Kasus virus Brucellosis secara nasional sebenarnya cukup tinggi sejak tahun 2018. Namun di wilayah Kab Blitar menjadi fokus penanganan kami karena jumlah populasi sapi perahnya tinggi sekitar 9 ribu ekor, kata Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veterines Dinas Peternakan Kab Blitar, Yudha Satya Wardana kepada wartawan tentang hewan ternak yang menghasilkan di kantornya, pada hari Rabu.

Meski tidak berakhir dengan kematian masal tentang ternak, namun virus penyebab keguguran brucellosis, sangat berbahaya bagi manusia dan hewan lainnya. Selain karena merupakan endemik di Jatim, penularannya sangat mudah bagi hewan lain maupun manusia. Kalau satu sapi sudah kena, harus segera dikarantina sampai penyakit tersebut hilang. Seluruh kandang harus disterilkan. Kalau tidak gitu, menyebarnya sangat cepat. Apalagi kalau sanitasi dan drainase kandang tidak higienis, tambahnya.

Sapi Perah Asal Bandung Barat Yang Terjangkit Virus Brucellosis – Penularan virus tersebut bisa pada manusia, lanjut Yudha, jika terjadi kontak langsung dengan sapi perah yang telah terpapar bakteri itu. Biasanya tenaga medis ternak wanita saat memeriksa kondisi kandungan sapi. Tapi kalau mengkonsumsi dagingnya tidak apa-apa asalkan dimasak dengan benar dan matang, katanya. Sementara secara terpisah peternak sapi perah dari Desa Bendosari, Sanankulon Kab Blitar, Rizal Kurniawan (33) mengaku lebih ketat pada bio security kandang untuk mengeliminir kasus serupa.

Mobilitas sapi perahan itu sangat tinggi, jadi saya lebih selektif memilih indukan. Juga lebih hati-hati masuk kandang. Sebelum masuk, semua wajib disemprot desinfektan, jelasnya. Tak hanya itu, menurut Rizal, peternak juga harus telaten memberikan vaksin pada anak sapi perah (Pedet) yang sudah berumur 5 bulan. Vaksin itu utama, selain itu kebersihan kandang. Karena bisnis sapi perah kalau sudah kena bakteri Brucellosis ruginya sangat besar bisa ratusan juta, ungkap Rizal.

Sapi perah, kata dia, produksi susunya akan menurun jika jarak antara kehamilan pertama dan berikutnya lebih dari dua tahun. Untuk itu kondisi kesehatannya harus bener-benar terjaga. Tingginya angka keguguran sapi perah di Blitar, menurut Rizal, karena rendahnya kesadaran peternak untuk menjaga kebersihan dan kesehatan ternak dan kandangnya. Dari dinas peternakan, harusnya juga ada kontrol secara kontinyu per 6 bulan sekali ke peternak, harapnya.

Leave a Reply