Wednesday , September 19 2018
Home > Mancanegara > TAHUN INI MALAYSIA HADAPI 700 LEBIH SERANGAN DARI GIGITAN ULAR COBRA

TAHUN INI MALAYSIA HADAPI 700 LEBIH SERANGAN DARI GIGITAN ULAR COBRA

TAHUN INI MALAYSIA HADAPI 700 LEBIH SERANGAN DARI GIGITAN ULAR COBRA

Data dari Rumah sakit Negara Malaysia setidaknya telah mencatat ada sekitar 727 kasus terhadap gigitan ular berbisa sejak bulan Januari.

Sedangkan pada Negara bagian utara telah mencatat kejadian gigitan ular paling tinggi sejauh ini, yakni telah mencatat adanya 195 kasus gigitan, diikuti oleh Perak dengan 107 kasus.

Dimana ada sebuah Kejadian seorang gadis yang masih berusia tujuh tahun di Kelantan meninggal setelah digigit ular berbisa merupakan satu-satunya kasus gigitan fatal yang tercatat sejauh ini.

“Ular-ular keluar dari lokasi habitat aslinya karena perubahan pola cuaca di Malaysia. Ini adalah sesuatu yang harusnya membuat kita lebih hati-hati, “kata Menteri Kesehatan S. Subramaniam saat jumpa pers, Rabu lalu.

Dia juga menyarankan agar para korban gigitan ular segera meminta bantuan kerumah sakit atau klinik, dan mendesak orang agar tidak mencoba merawat korban gigitan ular sendiri.

“Jadilah bijaksana mengenai kasus gigitan ular. Carilah bantuan medis sesegera mungkin. Keputusan pengobatan seharusnya hanya dilakukan oleh para profesional medis.

“Jangan coba-coba mengisap racun dari korban sendiri, karena melakukan hal ini bisa membahayakan nyawa korban,” katanya.

Subramaniam mengatakan, kalau sekarang ada 139 rumah sakit di Tanah Air Malaysia sudah dilengkapi dengan perawatan antivenom, yang menurutnya sangat cukup memadai.

“Ada dua jenis perawatan antivenom, satu monovalen yang digunakan untuk mengobati racun ular jenis tertentu, dan polyvalent untuk kombinasi berbagai jenis ular.

“Staf di Departemen Darurat Rumah Sakit memiliki keahlian untuk mengidentifikasi jenis perawatan antivenom sesuai dengan kasus ini.

“Bahkan jika pasien dibawa ke klinik atau rumah sakit tanpa fasilitas seperti itu, kita bisa mentransfernya ke satu dengan cepat, tanpa masalah,” kata Subramaniam.

Menteri tersebut mengatakan bahwa sekolah atau klinik setempat tidak dilengkapi dengan perawatan antivenom, karena perawatan semacam itu sangat rumit dan perlu dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas yang sesuai.

“Risiko aplikasi antivenom yang salah lebih besar dari gigitan ular itu sendiri, karena reaksi itu bisa menyebabkan tubuh manusia,” katanya.

Check Also

TRUMP KEMBALI PAKSA IMPOR BARANG CHINA SAMPAI 200 MILYAR DOLAR SAJA

TRUMP KEMBALI PAKSA IMPOR BARANG CHINA SAMPAI 200 MILYAR DOLAR SAJA

TRUMP KEMBALI PAKSA IMPOR BARANG CHINA SAMPAI 200 MILYAR DOLAR SAJA Presiden AS Donald Trump …