Sunday , April 22 2018
Home > Mancanegara > TEMPE AKAN MENJADI SEBUAH USULAN SEBAGAI WARISAN BUDAYA UNESCO
TEMPE AKAN MENJADI SEBUAH USULAN SEBAGAI WARISAN BUDAYA UNESCO

TEMPE AKAN MENJADI SEBUAH USULAN SEBAGAI WARISAN BUDAYA UNESCO

Tempeh akan diusulkan sebagai warisan budaya takbenda UNESCO pada 2021.

Made Astawan, ketua Forum Tempe Indonesia, mengatakan bahwa tempe harus diakui sebagai warisan budaya nasional.

“Kami bersyukur bahwa tempe diakui oleh pemerintah Indonesia sebagai warisan budaya nasional pada Oktober lalu. Ini meyakinkan kami untuk menargetkan UNESCO 2021 untuk mendapatkan pengakuan internasional, ”katanya kepada Tempo, Selasa.

Astawan mengatakan dengan tempe di daftar warisan budaya UNESCO, orang Indonesia, terutama anak muda yang kreatif, akan membawa lebih banyak inovasi untuk makanan populer.

“Sejak batik diakui oleh UNESCO pada tahun 2009, generasi muda telah menunjukkan minat yang besar dalam mengenakan batik,” katanya.

Dia menyatakan harapan bahwa pemuda Indonesia akan menjadi lebih antusias tentang makan tempe, melihat bahwa itu secara luas disajikan di hotel, termasuk dalam makanan di pesawat, dan telah diterima di negara-negara seperti Jepang, Inggris dan Amerika Serikat.

Dia merasa yakin bahwa tempe akan diterima oleh UNESCO sebagai pengakuan dari Indonesia meskipun itu juga diusulkan oleh negara lain.

“Kami memberikan bukti kuat, yaitu dalam cerita Serat Centhini yang menyatakan tempe telah ada sejak abad ke-16,” tambahnya.

Astawan mengatakan orang Indonesia harus mampu menghasilkan tempe berkualitas baik agar sesuai dengan standar internasional.

“Membuat tempe itu mudah dan murah, tetapi langkah yang sulit adalah memenuhi standar. Jadi kita harus meningkatkan sarana produksi kita, seperti memakai sarung tangan atau menggunakan drum stainless steel daripada yang digunakan, ”katanya.

Agustinus Ngadiman, seorang dosen di Sekolah Pendidikan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, mengatakan bahwa tempe pantas menjadi warisan budaya dunia yang melihat keberadaannya yang panjang.

“Tempe selalu digunakan sebagai simbol tradisi. Di Yogyakarta dan Sleman, ini adalah bagian dari tumpeng (sajian nasi kuning berbentuk kerucut dengan berbagai lauk) di acara-acara khusus, ”katanya.

Saat ini, hanya sekitar 30 persen kedelai berasal dari petani lokal, sementara 70 persen diimpor. Ngadiman menyatakan harapan bahwa pemerintah akan mengambil peran yang lebih aktif dalam produksi tempe, misalnya dengan meningkatkan produksi kedelai lokal untuk mengurangi ketergantungan negara pada kedelai impor.

Check Also

GURU DITUDUH DENGAN PELECEHAN ANAK UNTUK MENAMPAR SISWA

GURU DITUDUH DENGAN PELECEHAN ANAK UNTUK MENAMPAR SISWA

Seorang guru sekolah kejuruan di Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, menghadapi tuduhan pelecehan anak setelah video …