Sunday , January 21 2018
Home > News > WARGA TIBERIAS DATANGI KANTOR PEMERINTAH MEMINTA BANTUAN MENGAKHIRI PERSELISIHAN TANAH
WARGA TIBERIAS DATANGI KANTOR PEMERINTAH MEMINTA BANTUAN MENGAKHIRI PERSELISIHAN TANAH
WARGA TIBERIAS DATANGI KANTOR PEMERINTAH MEMINTA BANTUAN MENGAKHIRI PERSELISIHAN TANAH

WARGA TIBERIAS DATANGI KANTOR PEMERINTAH MEMINTA BANTUAN MENGAKHIRI PERSELISIHAN TANAH

SaranaNKRI WARGA TIBERIAS DATANGI KANTOR PEMERINTAH MEMINTA BANTUAN MENGAKHIRI PERSELISIHAN TANAH Warga desa Tiberias di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, telah meminta pemerintah untuk membantu mengakhiri sengketa tanah mereka terhadap perusahaan perkebunan Malisya Sejahtera yang belum menunjukkan tanda permukiman sejak dimulai pada tahun 2015. Perusahaan tersebut diduga mengklaim tanah tempat desa Tiberias berada dan telah menjadi satu-satunya penghidupan masyarakatnya sejak 1890-an. Penduduk setempat dilaporkan telah dipaksa menyerahkan panen pertanian mereka ke perusahaan pada tahun 2015.

Baca Juga :  SEBAGAI BENTUK PENOLAKAN TERHADAP TRUMB PKS ANCAM BOIKOT PRODUK AMERIKA

Hak untuk berkultivasi (HGU) yang diperoleh Malisya Sejahtera pada tahun 2001 dianggap cacat oleh penduduk setempat, karena perusahaan tersebut didirikan secara legal hanya pada tahun 2002.

“Tidak mungkin ijin dikeluarkan sebelum perusahaan itu ada,” kata Abner Patras, perwakilan warga Tiberias di Jakarta, Ahad.

WARGA TIBERIAS DATANGI KANTOR PEMERINTAH MEMINTA BANTUAN MENGAKHIRI PERSELISIHAN TANAH Ketika warga Tiberias membawa kasus mereka ke pengadilan, mereka memenangkan tuntutan hukum, namun hanya terkait dengan status hukum perusahaan dan bukan pada penerbitan HGU yang terlalu dini.

Abner mengatakan bahwa orang-orang Tiberias telah menduduki dan mengelola tanah tersebut sejak pemerintah kolonial Belanda membawa mereka dari Pulau Sanger, Sulawesi Utara, ke desa untuk dikultivasi. Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, masyarakat terus tinggal di desa, di mana mereka telah hidup sampai tiga generasi sejak menuai apa yang ditaburkan nenek moyang mereka, termasuk kelapa dan tanaman lainnya.

Baca Juga :  MAKASSAR – MURID DI DUA SD TAWURAN GARA-GARA CINTA MONYET

Karena perusahaan tersebut mengklaim tanah mereka, penduduk desa menghadapi serangkaian intimidasi. “Intimidasi tersebut telah membuat trauma orang-orang,” kata Direktur Eksekutif Forum Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Theo Runtunewe.

Check Also

HUBUNGAN BAIK GERINDRA DENGAN ORMAS PEMUDA PANCASILA

HUBUNGAN BAIK GERINDRA DENGAN ORMAS PEMUDA PANCASILA

SaranaNKRI HUBUNGAN BAIK GERINDRA DENGAN ORMAS PEMUDA PANCASILA Isu yang beredar di media sosila terkait …