News

PENDIRI LIO AIR MEMINTA MAAF KEPADA KELUARGA KORBAN KECELAKAAN JT610

PENDIRI LIO AIR MEMINTA MAAF KEPADA KELUARGA KORBAN KECELAKAAN JT610PENDIRI LIO AIR MEMINTA MAAF KEPADA KELUARGA KORBAN KECELAKAAN JT610

Pendiri Lion Air Group, Rusdi Kirana telah meminta maaf kepada keluarga penumpang dan kru di atas pesawat Lion Air JT610, yang menabrak Laut Jawa, mengatakan bahwa ia “sangat terkejut” oleh tragedi itu.

Rusdi, yang saat ini menjadi duta besar Indonesia untuk Malaysia, mengunjungi keluarga korban di Ibis Cawang Hotel di Jakarta Timur pada hari Selasa, sehari setelah pesawat itu turun dalam perjalanan dari Jakarta ke Pangkalpinang di Kepulauan Bangka Belitung pada Senin pagi.

“Saya minta maaf, apapun alasannya. Saat ini saya mencoba yang terbaik,” kata Rusdi seperti dikutip oleh kompas.com. “Saya menyampaikan belasungkawa. Saya sedih dan jujur, saya sangat terkejut [oleh insiden itu].”

Manajemen Lion Air, kata Rusdi, Selasa, siap diaudit menyusul kecelakaan itu. “Jika temuan di [audit] menunjukkan kesalahan kami, kami tidak akan keberatan dengan hukuman apa pun,” katanya.

Rusdi mengundurkan diri dari posisinya sebagai CEO Lion Air pada tahun 2014. Dia ditunjuk oleh Presiden Joko “Jokowi” Widodo sebagai anggota Dewan Penasihat Presiden pada tahun 2015, kemudian mengundurkan diri dari keanggotaannya ketika ia dilantik sebagai duta besar tahun lalu.

Rusdi, yang ikut mendirikan maskapai penerbangan bertarif murah Lion Mentari pada tahun 1999, membantu mengawasi ekspansi Lion Air dalam dekade terakhir untuk menjadi maskapai penerbangan swasta terbesar di negara itu.

Pada tahun 2013 Lion Air memesan 234 pesawat dari pabrikan Airbus dari Perancis, memberikan penghargaan kepada Rusdi dari pemerintah Prancis untuk pembelian terbesar yang pernah diterima oleh perusahaan pada saat itu.

Kecelakaan pesawat pada hari Senin adalah insiden terbaru dan terburuk yang melibatkan Lion Air, yang telah terlibat dalam sejumlah insiden selama dekade terakhir.

Manajemen, kata Rusdi, akan menyediakan keluarga orang-orang yang menumpang JT610 dengan masing-masing Rp 5 juta (US $ 328) untuk mendukung masa tinggal mereka di Jakarta selama pemulihan tubuh korban dan proses identifikasi selanjutnya.

Satu lagi Rp 25 juta akan disediakan oleh manajemen untuk mendukung biaya pemakaman mereka yang tewas dalam insiden itu, katanya.

Leave a Reply